
Ramadan itu bukan cuma soal nahan lapar dan haus. Lebih dari itu, Ramadan adalah momen “reset kehidupan”. Pola makan berubah, jam tidur berubah, pola aktivitas juga ikut berubah. Kalau nggak diatur dengan baik, bisa-bisa kita jadi gampang lelah, bad mood, dan nggak produktif. Tapi kalau dikelola dengan tepat? Ramadan justru bisa jadi bulan paling mindful dan produktif dalam setahun.
Pernahkan kamu bertanya-tanya, mengapa perubahan gaya hidup pribadi dan sosial kita saat berpuasa di bulan Ramadan mengalami perubahan yang signifikan. Contohnya sering tidur diluar dari jam tidur dimana setelah sholat terkadang langsung tidur, jam makan juga dibatasi dan hanya boleh makan saat sahur dan berbuka puasa. Ada sebuah istilah yaitu “Ritme Sirkadian”. Ritme circardian berasal dari kata Latin “circaders“, yang berarti kira-kira satu hari, dan “dies“, yang berarti “hari.”
Siklus tidur-bangun seseorang dipengaruhi oleh ritme sirkadian, yang mengatur waktu mereka tidur dan bangun, suhu tubuh, sistem endokrin, tekanan darah, dan sekresi melatonin. Siklus yang tetap sesuai dengan ritme ini akan menyebabkan kualitas tidur yang baik, tetapi siklus yang berubah secara signifikan akan menyebabkan kualitas tidur yang buruk. Namun selama Ramadan, waktu makan berpindah ke malam dan dini hari, waktu tidur sering tertunda, dan paparan cahaya malam meningkat. Kondisi ini dapat menggeser ritme sirkadian (circadian phase delay), sehingga tubuh perlu beradaptasi dengan pola baru. Jika tidak diatur dengan baik, perubahan ini dapat memicu gangguan tidur, kelelahan di siang hari, serta penurunan fokus.
Selain mengalami perubahan biologis, di bulan ramadhan juga membawa tantangan pada sisi kesehatan mental. Kurang tidur, rasa lapar yang ditahan selama seharian, tekanan akademik yang dialami mahasiswa dan pekerjaan dengan porsi besar dapat meningkatkan kerentanan terhadap stres yang mengganggu kesehatan mental. Menjaga kesehatan mental selama Ramadan berarti memahami bahwa tubuh dan pikiran kita sedang beradaptasi selama satu bulan penuh.
Tetapi yang perlu diketahui juga bahwa kurang tidur dan tidur seharian bukan solusi yang benar. Kuncinya ada di Kualitas, bukan Kuantitas.
Nah ini adalah strategi yang dapat diterapkan selama ramadan ini yaitu:
Kemudian lanjut lagi, pernahkah kamu sering merasa gampang marah atau baper di bulan puasa? Nah itu jika digabung namanya Hungry + Angry = Hangry dalam istilah psikologi dan medis. Ketika kadar gula darah turun, otak kita kekurangan bahan bakar untuk mengontrol impuls emosi. Jadinya, sumbu sabar kita memendek drastis. Menjaga kesehatan mental saat puasa itu penting banget.
Berikut ini tips-tips untuk menjaga kesehatan mental saat puasa:
Terus gimana caranya untuk tetap produktif?
Ramadan bukan penghalang buat jadi versi terbaik dirimu. Dengan manajemen tidur yang benar, menjaga pikiran tetap positif, dan tahu kapan harus “gas” atau “rem” dalam bekerja, kamu bisa melewati bulan suci ini dengan hasil yang maksimal, baik secara spiritual maupun profesional.