CIMSIGHT #51: Breast & Cervical Cancer Awareness: Kenali, Cegah, dan Deteksi Dini

Apa perbedaan kanker payudara dan kanker serviks, serta siapa yang paling berisiko mengalaminya?
Perbedaan Ca payudara & serviks terletak pada lokasinya, untuk lokasi Ca Payudara berada di sekitaran jaringan payudara, biasanya pada stadium 2-4 pada Ca Payudara sudah menyebar ke area kelenjar getah bening, penyebab paling sering akibat paparan estrogen jangka panjang dan faktor genetik. Sedangkan, Ca Serviks lokasinya berada di leher rahim/serviks, biasanya penyebabnya bisa karena terpapar infeksi virus HPV (16 & 18). Nah, resiko Ca payudara dan serviks ini menjadikan kewaspadaan bagi semua perempuan.

Apa saja tanda dan gejala awal kanker payudara dan kanker serviks yang perlu diwaspadai?
Gejala awal Ca payudara masing-masing tiap orang berbeda, namun dapat diwaspadai yang paling umum ketika seseorang terkena Ca Payudara adalah benjolan disekitaran payudara dan area ketiak. Kemudian, adanya perubahan warna kulit pada sekitaran payudara, rasa nyeri, dan keluarnya cairan yang tidak biasa dari payudara. Sedangkan, untuk Ca serviks dapat diwaspadai dengan pendarahan abnormal, bercak, dan cairan encer dari vagina (biasanya ketika setelah selesai berhubungan badan), nyeri panggul. Perlu disadari juga apakah berat badan menurun secara drastis ketika seseorang terkena Ca serviks dan Payudara.

Pentingnya perempuan mengetahui SADARI, SADANIS, dan Pap Smear.

SADARI adalah pemeriksaan payudara yang dilakukan secara mandiri. Maksudnya? Pemeriksaan ini dilakukan oleh diri sendiri untuk mengetahui kondisi normal payudara dan mendeteksi adanya perubahan sejak dini. Pemeriksaan ini sangatlah mudah dan cepat, dengan melakukan perabaan dan melihat payudara, biasanya 7 – 10 hari setelah menstruasi, saat payudara kondisinya sedang lunak. SADARI bisa dilakukan setiap bulannya ya!

SADANIS adalah pemeriksaan payudara oleh orang yang terlatih, contohnya tenaga kesehatan seperti dokter atau bidan. Dianjurkannya SADANIS ini setiap tahun pada perempuan yang usianya > 40 tahun, dan 1-3 tahun pada perempuan yang usianya 20 – 39 tahun. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara perabaan, USG (jika diperlukan, dan biasanya pada dokter obygn).

Pap Smear adalah pemeriksaan skrining untuk mendeteksi perubahan sel abnormal pada leher rahim, apakah bisa menjadi Ca serviks atau tidak. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel serviks, kemudian diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini bisa dilakukan setiap 3 tahun sekali atau disesuaikan dengan anjuran dokter ya.

Banyak sekali khasus Ca Payudara dan Serviks yang terdeteksi ketika sudah di stadium 3-4, pentingnya melakukan SADARI, SADANIS, dan Pap Smear untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dan bisa melakukan pengobatan dan pencegahan dari awal.

Apakah semua benjolan di payudara berarti kanker?

Tidak semua benjolan di payudara merupakan kanker. Sebagian besar benjolan justru bersifat jinak, seperti fibroadenoma, kista payudara, atau perubahan fibrokistik yang berkaitan dengan fluktuasi hormon, terutama pada perempuan usia muda. Benjolan jinak umumnya memiliki batas yang jelas, terasa kenyal, dan mudah digerakkan saat diraba. Namun demikian, setiap benjolan tetap perlu diwaspadai. Benjolan yang mengarah ke keganasan biasanya terasa keras, tidak mudah digerakkan, dan dapat disertai tanda lain seperti perubahan bentuk payudara, kulit menyerupai kulit jeruk, atau keluarnya cairan abnormal dari puting. Karena sulit membedakan benjolan jinak dan ganas hanya dengan perabaan, pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Benarkah kanker payudara bisa menular atau hanya bisa diobati dengan operasi pengangkatan payudara?

Kanker payudara bukan penyakit menular. Penyakit ini tidak dapat menyebar melalui sentuhan fisik, penggunaan barang bersama, menyusui, maupun kontak sehari-hari. Kanker payudara terjadi akibat pertumbuhan sel yang tidak terkendali di jaringan payudara, yang dipengaruhi oleh faktor genetik, hormonal, gaya hidup, dan lingkungan, bukan oleh infeksi atau penularan antarindividu. Selain itu, terdapat anggapan bahwa kanker payudara hanya bisa diobati dengan operasi pengangkatan payudara. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Penatalaksanaan kanker payudara saat ini bersifat multimodal, artinya terapi disesuaikan dengan stadium kanker, jenis sel kanker, serta kondisi pasien.

Operasi memang merupakan salah satu pilihan terapi utama, namun tidak selalu berarti pengangkatan seluruh payudara. Pada kasus tertentu, dapat dilakukan operasi konservasi payudara (breast-conserving surgery). Selain operasi, tersedia terapi lain seperti kemoterapi, radioterapi, terapi hormon, dan terapi target, yang dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan untuk hasil yang optimal.

Faktor gaya hidup apa saja yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker serviks?

Banyak bukti epidemiologi menunjukkan hubungan gaya hidup dengan risiko kanker payudara. Secara umum, kelebihan berat badan atau obesitas (terutama pascamenopause) merupakan faktor risiko kuat seseorang mengalami kanker payudara. Meta-analisis mengestimasi bahwa kenaikan Indeks Massa Tubuh (BMI) pascamenopause meningkatkan risiko kanker payudara hingga 21%. Konsumsi alkohol juga dikaitkan dengan peningkatan risiko (relatif risk naik 4–61%). Kebiasaan merokok menambah risiko kanker payudara (meningkat 4–86%). Selain itu, penggunaan kontrasepsi hormonal kombinasi juga terindikasi sedikit menaikkan risiko KP pada pengguna aktif. Pola makan tinggi lemak dan rendah serat, obesitas akibat diet tidak sehat, serta stres kronis juga diidentifikasi sebagai faktor risiko kanker payudara melalui pengaruh hormon dan proses inflamasi tubuh. Studi lokal di Semarang (2025) pun menunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi hormonal dan obesitas merupakan faktor risiko kanker payudara pada wanita usia produktif.

Faktor risiko utama kanker serviks adalah infeksi human papillomavirus (HPV) terutama HPV 16 dan 18. Namun, beberapa faktor gaya hidup dapat mempengaruhi inisiasi dan progresi infeksi ini. Kebiasaan merokok menurunkan kemampuan tubuh mendeteksi dan menghancurkan sel serviks yang mengalami transformasi ganas akibat HPV. Kekurangan nutrisi penting (misalnya antioksidan dan folat) juga melemahkan pertahanan imun terhadap HPV sehingga mempermudah transformasi sel serviks menjadi prakanker atau kanker.

Apa langkah pencegahan yang bisa dilakukan perempuan sejak dini untuk menurunkan risiko kedua kanker ini?

Untuk menurunkan risiko kanker payudara dan kanker serviks pada perempuan muda, beberapa strategi pencegahan berbasis gaya hidup dan medis sangat dianjurkan:

  • Vaksinasi HPV: Imunisasi HPV pada remaja perempuan (idealnya usia 9–14 tahun sebelum memulai aktivitas seksual) secara drastis menurunkan insidensi infeksi HPV tipe berisiko tinggi. Perkembangan dari sel normal – lesi prakanker – kanker serviks membutuhkan waktu 5-15 tahun, sehingga seharusnya dapat dicegah dalam rentang waktu tersebut. Vaksin HPV menurunkan 98% risiko terjadinya lesi prakanker. Vaksin 2-valen dan 4-valen melindungi terhadap HPV16/18 yang menyebabkan sekitar 66% kasus kanker serviks, sedangkan vaksin 9-valen menambah tipe-virus tambahan sehingga melindungi sekitar 81% kasus kanker payudara. Di Indonesia, sejak 2023 program vaksinasi HPV telah diupayakan oleh pemerintah.
  • Skrining Dini Kanker Serviks: Deteksi dini lesi prakanker serviks melalui skrining (Pap smear atau inspeksi visual asam asetat/VIA) secara rutin (misalnya tiap 3–5 tahun untuk Pap smear mulai usia 30 dapat menurunkan mortalitas kanker serviks. Sayangnya, cakupan skrining serviks di Indonesia masih sangat rendah (~9,8% populasi sasaran). 
  • Deteksi Dini Kanker Payudara: Meskipun tidak ada skrining untuk kanker payudara yang efektif pada usia sangat muda, perempuan muda dianjurkan melakukan SADARI (periksa payudara sendiri) bulanan mulai usia 20-an untuk mengenali benjolan lebih awal. Pemeriksaan payudara klinis (SADANIS) oleh tenaga medis setiap beberapa tahun juga dapat dilakukan. Mulai usia 40 atau sesuai anjuran dokter (untuk yang ada risiko familial), pemeriksaan mammografi berkala sangat efektif menurunkan mortalitas kanker payudara. Semua perempuan muda harus mengetahui cara SADARI dan melaporkan setiap temuan mencurigakan ke dokter.
  • Hidup Sehat dan Perilaku Reproduksi: Mengadopsi gaya hidup sehat umum juga berperan menurunkan risiko kanker payudara dan kanker serviks. Rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, dan mengonsumsi pola makan bergizi (tinggi buah/sayur dan rendah lemak jenuh) membantu meminimalkan obesitas dan peradangan kronis yang menaikkan risiko kanker payudara. Menghindari merokok (juga asap rokok pasif) dan membatasi konsumsi alkohol juga sangat dianjurkan. Selain itu, edukasi reproduksi penting: menunda aktivitas seksual hingga usia dewasa, tidak berganti-ganti pasangan, serta penggunaan kondom dengan tepat dapat menurunkan paparan awal HPV.