Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia, mencakup kemampuan untuk berpikir jernih, mengelola emosi, dan berinteraksi secara positif dengan orang lain. Namun, Indonesia masih menghadapi krisis kesehatan mental. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Indonesia dan Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia (2022), sekitar satu dari sepuluh orang Indonesia mengalami gangguan mental, sementara 34,9% remaja menghadapi masalah kesehatan mental, dan hanya sebagian kecil yang memiliki akses ke layanan konseling. Situasi ini menyoroti pentingnya meningkatkan kesadaran dan mendidik masyarakat tentang kesehatan mental, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa yang tinggal jauh dari rumah dan rentan terhadap stres adaptasi budaya.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap isu ini, CIMSA UNEJ, melalui SCOPH dan SCOPE, mengadakan kegiatan bertajuk UNITY (Understanding Nations, Integrating Traditions, and Youth Mental Health) pada tanggal 18 Oktober 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari perayaan Hari Kesehatan Mental Sedunia, dengan fokus pada pendidikan kesehatan mental bagi mahasiswa migran. Peserta mengikuti diskusi interaktif yang dipimpin oleh ahli kesehatan mental, Dr. Inke Kusumastuti, M.Biomed, Sp.KJ, dan Justin Keane Adhinata Santoso, CIMSA Outgoing – Poland 2025. Sesi ini membahas adaptasi lintas budaya, manajemen stres, dan pentingnya menjaga keseimbangan mental di tengah perubahan lingkungan. Acara dilanjutkan dengan workshop “Art Therapy” praktis, di mana peserta mendekorasi lilin aromaterapi sebagai bentuk relaksasi dan ekspresi emosional.
Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan peserta sebelum dan setelah sesi melalui penilaian pre-test dan post-tes, serta mengevaluasi kepuasan mereka dan dampak acara tersebut terhadap kesadaran kesehatan mental. Penilaian dilakukan menggunakan kuesioner Google Form, yang diisi oleh 32 responden secara total. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan sebesar 4,34%, yang dikategorikan sebagai baik. Empat dari lima pertanyaan menunjukkan peningkatan jawaban benar dari pre-test ke post-test, menunjukkan bahwa materi disampaikan dengan efektif. Namun, beberapa masalah teridentifikasi, termasuk partisipasi yang tidak lengkap dalam pre-test dan post-test, formulir gabungan yang mempersulit pengolahan data, dan ketidakhadiran formulir umpan balik kepuasan.
Secara keseluruhan, kegiatan UNITY berhasil meningkatkan pemahaman peserta tentang kesehatan mental dan adaptasi budaya. Rekomendasi untuk masa depan meliputi pemisahan formulir penilaian, memastikan tanggapan yang lengkap melalui pengawasan, dan menyediakan formulir umpan balik untuk memungkinkan evaluasi yang lebih komprehensif dan dampak yang dapat diukur.