CIMSIGHT #57: Perempuan dalam Bayang-Bayang Bencana

Menjadi pengungsi berarti harus meninggalkan rumah, lingkungan, dan kehidupan yang selama ini dikenal demi mencari tempat yang lebih aman. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, banyak pengungsi kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar, seperti tempat tinggal yang layak, layanan kesehatan, pendidikan, hingga perlindungan. Namun, di balik tantangan yang dihadapi semua pengungsi, perempuan dan anak perempuan sering kali menghadapi risiko yang lebih besar. Selain harus beradaptasi dengan kehidupan di pengungsian, mereka juga lebih rentan kehilangan rasa aman, menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, serta mengalami berbagai bentuk kekerasan berbasis gender.

Situasi pengungsian dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai bentuk kekerasan berbasis gender, seperti kekerasan seksual, eksploitasi seksual, perdagangan manusia, hingga pernikahan paksa. Keterbatasan fasilitas, minimnya perlindungan, serta kondisi yang tidak stabil membuat perempuan dan anak perempuan menjadi kelompok yang lebih rentan. Karena itu, perlindungan terhadap mereka harus menjadi bagian penting dalam setiap respons kemanusiaan.

Di sisi lain, kebutuhan kesehatan reproduksi tidak berhenti ketika krisis terjadi. Menstruasi tetap berlangsung, kehamilan tetap membutuhkan pemeriksaan, dan layanan kesehatan reproduksi tetap diperlukan. Namun, akses terhadap produk menstruasi, fasilitas sanitasi yang layak, maupun layanan kesehatan sering kali menjadi terbatas. Padahal, kebutuhan tersebut berperan penting dalam menjaga kesehatan sekaligus martabat perempuan selama berada di pengungsian.

Tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, pengalaman menjadi pengungsi juga dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat. Trauma akibat konflik, kehilangan anggota keluarga, ketidakpastian masa depan, hingga rasa takut akan kekerasan dapat memengaruhi kesehatan mental perempuan dalam jangka panjang. Dukungan psikososial dan layanan kesehatan mental menjadi bagian penting dari proses pemulihan mereka.

Karena itu, perempuan pengungsi membutuhkan lebih dari sekadar tempat berlindung. Mereka membutuhkan perlindungan dari kekerasan, akses terhadap layanan kesehatan reproduksi, fasilitas sanitasi yang aman dan layak, dukungan kesehatan mental, serta lingkungan yang inklusif agar hak, kesehatan, dan martabat mereka tetap terjaga. Dalam situasi apa pun, perempuan dan anak perempuan tetap berhak memperoleh perlindungan dan layanan yang mereka butuhkan. Momentum World Refugee Day menjadi pengingat bahwa memenuhi kebutuhan tersebut merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih aman, sehat, dan bermartabat bagi setiap pengungsi.